Sejarah Batik Indonesia
Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang
dikenal sejak
abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat
itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman.
Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.
Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.
Jenis dan corak batik tradisional
tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan
budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia
yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal
dengan ciri kekhususannya sendiri.
Perkembangan Batik di Indonesia
Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan dengan
perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya. Dalam beberapa
catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram,
kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.
Kesenian batik merupakan kesenian
gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga
raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam
kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para
pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton,
maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan
ditempatnya masing-masing.
Dalam
perkembangannya lambat laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan
selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk
mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga
istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.
Bahan kain putih yang
dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna
yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri
antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat
dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.
Jadi kerajinan batik ini di Indonesia telah dikenal sejak
zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun
mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya
suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang
dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap
dikenal baru setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920. Kini
batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia.
Batik Pekalongan
Meskipun tidak ada catatan resmi kapan batik mulai dikenal
di Pekalongan, namun menurut perkiraan batik sudah ada di Pekalongan sekitar
tahun 1800. Bahkan menurut data yang tercatat di Deperindag, motif batik itu
ada yang dibuat 1802, seperti motif pohon kecil berupa bahan baju.
Namun perkembangan yang signifikan diperkirakan terjadi
setelah perang besar pada tahun 1825-1830 di kerajaan Mataram yang sering
disebut dengan perang Diponegoro atau perang Jawa. Dengan terjadinya peperangan
ini mendesak keluarga kraton serta para pengikutnya banyak yang meninggalkan
daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di
daerah - daerah baru itu para keluarga dan pengikutnya mengembangkan batik.
Ke timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak
batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulungagung hingga menyebar ke Gresik,
Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat batik berkembang di Banyumas,
Kebumen, Tegal, Cirebon dan Pekalongan. Dengan adanya migrasi ini, maka batik
Pekalongan yang telah ada sebelumnya semakin berkembang.
Seiring berjalannya waktu, Batik Pekalongan mengalami
perkembangan pesat dibandingkan dengan daerah lain. Di daerah ini batik
berkembang di sekitar daerah pantai, yaitu di daerah Pekalongan kota dan daerah
Buaran, Pekajangan serta Wonopringgo.
Perjumpaan
masyarakat Pekalongan dengan berbagai bangsa seperti Cina, Belanda, Arab,
India, Melayu dan Jepang pada zaman lampau telah mewarnai dinamika pada motif
dan tata warna seni batik.
Sehubungan dengan itu beberapa jenis motif batik hasil
pengaruh dari berbagai negara tersebut kemudian dikenal sebagai identitas batik
Pekalongan. Adapun motifnya antara lain batik Jlamprang diilhami dari Negeri
India dan Arab, batik Encim dan Klengenan, dipengaruhi oleh peranakan Cina,
batik Pagi Sore oleh Belanda, dan batik Hokokai, tumbuh pesat sejak pendudukan
Jepang.
Perkembangan budaya teknik cetak motif tutup celup dengan
menggunakan malam (lilin) di atas kain yang kemudian disebut batik, memang tak
bisa dilepaskan dari pengaruh negara-negara itu. Ini memperlihatkan konteks
kelenturan batik dari masa ke masa.
Batik Pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang
sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha
bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses
produksi batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah. Akibatnya, batik
Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini
terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kotamadya Pekalongan dan
Kabupaten Pekalongan.
Pasang surut perkembangan batik Pekalongan, memperlihatkan
Pekalongan layak menjadi ikon bagi perkembangan batik di Nusantara. Ikon bagi
karya seni yang tak pernah menyerah dengan perkembangan zaman dan selalu
dinamis. Kini batik sudah menjadi nafas kehidupan sehari-hari warga Pekalongan
dan merupakan salah satu produk unggulan. Hal itu disebabkan banyaknya industri
yang menghasilkan produk batik. Karena terkenal dengan produk batiknya,
Pekalongan dikenal sebagai Kota Batik. Julukan itu datang dari suatu tradisi
yang cukup lama berakar di Pekalongan. Selama periode yang panjang itulah,
aneka sifat, ragam kegunaan, jenis rancangan, serta mutu batik ditentukan oleh
iklim dan keberadaan serat-serat setempat, faktor sejarah, perdagangan dan
kesiapan masyarakatnya dalam menerima paham serta pemikiran baru.
Batik yang merupakan karya seni budaya yang dikagumi dunia,
diantara ragam tradisional yang dihasilkan dengan teknologi celup rintang,
tidak satu pun yang mampu hadir seindah dan sehalus batik Pekalongan.
Sejarah Batik di Indonesia
Sejarah
pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan
penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan
batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa
kerjaan Solo dan Yogyakarta.
Jadi kesenian
batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus
berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya
kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah
setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah
semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah
perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan
penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah
daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjaungan ekonomi oleh
tokoh-tokoh pedangan Muslim melawan perekonomian Belanda.
Kesenian batik
adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu
kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan
hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga
serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal
diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan
dikerjakan ditempatnya masing-masing.
Lama-lama
kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi
pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang.
Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi
pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang
dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.
Sedang
bahan-bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia
yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan
bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanahlumpur.
Jaman
MajapahitBatik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, pat
ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojoketo adalah daerah yang
erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama
Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Kaitannya dengan perkembangan batik
asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan
pembatikan didaerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan
Majapahit. Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari
rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat
bekembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati
Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.
Diceritakan
bahwa dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahati, Adipati Kalang
tewas dalam pertempuran yang konon dikabarkan disekitar desa yang sekarang
bernama Kalangbret. Demikianlah maka petugas-petugas tentara dan keluara
kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal diwilayah Bonorowo atau yang
sekarang bernama Tulungagung antara lain juga membawa kesenian membuat batik
asli.
Sejarah Batik Pekalongan
Meskipun tidak
ada catatan resmi kapan batik mulai dikenal di Pekalongan, namun menurut
perkiraan batik sudah ada di Pekalongan sekitar tahun 1800. Bahkan menurut data
yang tercatat di Deperindag, motif batik itu ada yang dibuat 1802, seperti
motif pohon kecil berupa bahan baju.
Namun
perkembangan yang signifikan diperkirakan terjadi setelah perang besar pada
tahun 1825-1830 di kerajaan Mataram yang sering disebut dengan perang
Diponegoro atau perang Jawa. Dengan terjadinya peperangan ini mendesak keluarga
kraton serta para pengikutnya banyak yang meninggalkan daerah kerajaan. Mereka
kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah - daerah baru itu
para keluarga dan pengikutnya mengembangkan batik.
Ke timur batik
Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto
serta Tulungagung hingga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke
arah Barat batik berkembang di Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon dan
Pekalongan. Dengan adanya migrasi ini, maka batik Pekalongan yang telah ada
sebelumnya semakin berkembang.
Seiring
berjalannya waktu, Batik Pekalongan mengalami perkembangan pesat dibandingkan
dengan daerah lain. Di daerah ini batik berkembang di sekitar daerah pantai,
yaitu di daerah Pekalongan kota dan daerah Buaran, Pekajangan serta
Wonopringgo.
Batik Pekalongan, antara Masa Lampau dan Kini
BATIK
pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan
pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh
tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik pekalongan
dikerjakan di rumah-rumah.
Akibatnya,
batik pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini
terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kota Pekalongan dan Kabupaten
Pekalongan, Jawa Tengah. Batik pekalongan adalah napas kehidupan sehari-sehari
warga Pekalongan. Ia menghidupi dan dihidupi warga Pekalongan.
Meskipun
demikian, sama dengan usaha kecil dan menengah lainnya di Indonesia, usaha
batik pekalongan kini tengah menghadapi masa transisi. Perkembangan dunia yang
semakin kompleks dan munculnya negara pesaing baru, seperti Vietnam, menantang
industri batik pekalongan untuk segera mentransformasikan dirinya ke arah yang
lebih modern.
Gagal melewati
masa transisi ini, batik pekalongan mungkin hanya akan dikenang generasi
mendatang lewat buku sejarah.
Ketika itu,
pola kerja tukang batik masih sangat dipengaruhi siklus pertanian. Saat
berlangsung masa tanam atau masa panen padi, mereka sepenuhnya bekerja di
sawah. Namun, di antara masa tanam dan masa panen, mereka bekerja sepenuhnya
sebagai tukang batik.
ZAMAN telah
berubah. Pekerja batik di Pekalongan kini tidak lagi didominasi petani. Mereka
kebanyakan berasal dari kalangan muda setempat yang ingin mencari nafkah. Hidup
mereka mungkin sepenuhnya bergantung pada pekerjaan membatik.
Apa yang
dihadapi industri batik pekalongan saat ini mungkin adalah sama dengan
persoalan yang dihadapi industri lainnya di Indonesia, terutama yang berbasis
pada pengusaha kecil dan menengah.
Persoalan itu,
antara lain, berupa menurunnya daya saing yang ditunjukkan dengan harga jual
produk yang lebih tinggi dibanding harga jual produk sejenis yang dihasilkan
negara lain. Padahal, kualitas produk yang dihasikan negara pesaing lebih baik
dibanding produk pengusaha Indonesia.
Penyebab
persoalan ini bermacam-macam, mulai dari rendahnya produktivitas dan
keterampilan pekerja, kurangnya inisiatif pengusaha untuk melakukan inovasi
produk, hingga usangnya peralatan mesin pendukung proses produksi.
Batik "Rumah Kayla "adalah produsen batik
pekalongan yang berorientasi Menjual
produknya langsung kepada para Penjual Eceran,
Resseller,Grosir, distributor, Mall
dan Toko dengan daerah pemasaran Hampir di seluruh kota di
Indonesia Meliputi : Medan,Lampung,Jakarta,Bogor,Tangerang,Bandung
Bekasi,Pekalongan,Semarang,Surabaya,Bali,Kupang,Dili
Kalimampau,Samarinda,Palu dan daerah - daerah lainnya.
Produk kami juga telah diterima di sekitar 30 Mall yang
tersebar di berbagai daerah
di Indonesia hal ini sebagai salah satu jaminan akan
kualitas Produk kami yang terjaga
walaupun dengan harga yang murah. Mengapa Harga Murah ?
1. Kami mempunyai tenaga ahli Akademis tekstil yang yang bekerja untuk memilih Bahan Baku kain
yang berkualitas walaupun terbuat dari benang yang murah. dan juga didukung
Tenaga kerja tradisional Pekalongan yang mempunyai keahlian membuat batik secara
turun temurun
2. Faktor-faktor produksi yg murah di pekalongan , antara
lain seperti : tenaga kerja dan bahan bahan baku
4.proses pembuatan bahan sampai pakaian batik kami produksi
sendiri
5. minimum stock konsep & product by order sehingga kami
tidak membutuhkan biaya lain-lain yang tinggi
6.Orientasi bisnis kami hanya mensuplay Product ke penjual,
oleh karena itu kami tidak membutuhkan Showroom / toko yang memerlukan biaya
sewa, biaya listrik,dan lain sebagainya. kami hanya mempunyai Workshop ( Ruang
Produksi ) yang langsung berhubungan dengan produksi.
7.Kami hanya melakukan "online promote", sehingga
memangkas biaya promosi
Untuk menjaga
originallitas dan mengikuti trend dan mode kami melakukan Perubahan model dan
motif setiap 2 minggu, dan dalam rangka ekspansi pasar, kami membuka kesempatan
pada para individu untuk ikut memasarkan produk kami.dan kami akan selalu
mengusahakan memberikan harga dan kualitas yang terbaik bagi Anda, Selamat
Berbelanja semoga anda Puas
Ragam Batik
Ada beberapa
pandangan yang mengelompokkan batik menjadi dua kelompok seni batik, yakni
batik keraton (Surakarta dan Yogyakarta) dan seni batik pesisir.
Motif seni
batik keraton banyak yang mempunyai arti filosofi, sarat dengan makna kehidupan.
Gambarnya rumit/halus dan paling banyak mempunyai beberapa warna, biru, kuning
muda atau putih. Motif kuno keraton seperti pola panji (abad ke-14), gringsing
(abad 14), kawung yang diciptakan Sultan Agung (1613-1645), dan parang, serta
motif anyaman seperti tirta teja.
Kemudian motif
batik pesisir memperlihatkan gambaran yang lain dengan batik keraton. Batik
pesisir lebih bebas serta kaya motif dan warna. Mereka lebih bebas dan tidak
terikat dengan aturan keraton dan sedikit sekali yang memiliki arti filosofi.
Motif batik pesisir banyak yang berupa tanaman, binatang, dan ciri khas
lingkungannya. Warnanya semarak agar lebih menarik konsumen.
Perbedaan Batik Tulis dan Cap
Batik Tulis
Dikerjakan
dengan menggunakan canting yaitu alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk
bisa menampung malam (lilin batik) dengan memiliki ujung berupa saluran/pipa
kecil untuk keluarnya malam dalam membentuk gambar awal pada permukaan kain.
Bentuk gambar/desain pada batik tulis tidak ada pengulangan yang jelas,
sehingga gambar nampak bisa lebih luwes dengan ukuran garis motif yang relatif
bisa lebih kecil dibandingkan dengan batik cap. Gambar batik tulis bisa dilihat
pada kedua sisi kain nampak lebih rata (tembus bolak-balik) khusus bagi batik
tulis yang halus. Warna dasar kain biasanya lebih muda dibandingkan dengan
warna pada goresan motif (batik tulis putihan/tembokan). Setiap potongan gambar
(ragam hias) yang diulang pada lembar kain biasanya tidak akan pernah sama
bentuk dan ukurannya. Berbeda dengan batik cap yang kemungkinannya bisa sama
persis antara gambar yang satu dengan gambar lainnya. Waktu yang dibutuhkan
untuk pembuatan batik tulis relatif lebih lama (2 atau 3 kali lebih lama)
dibandingkan dengan pembuatan batik cap. Pengerjaan batik tulis yang halus bisa
memakan waktu 3 hingga 6 bulan lamanya. Alat kerja berupa canting harganya
relatif lebih murah berkisar Rp. 10.000,- hingga Rp. 20.000,-/pcs. Harga jual
batik tulis relatif lebih mahal, dikarenakan dari sisi kualitas biasanya lebih
bagus, mewah dan unik.
Batik Cap
Dikerjakan
dengan menggunakan cap (alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk sesuai
dengan gambar atau motif yang dikehendaki). Untuk pembuatan satu gagang cap
batik dengan dimensi panjang dan lebar : 20 cm X 20 cm dibutuhkan waktu
rata-rata 2 minggu. Bentuk gambar/desain pada batik cap selalu ada pengulangan
yang jelas, sehingga gambar nampak berulang dengan bentuk yang sama, dengan
ukuran garis motif relatif lebih besar dibandingkan dengan batik tulis. Gambar
batik cap biasanya tidak tembus pada kedua sisi kain. Warna dasar kain biasanya
lebih tua dibandingkan dengan warna pada goresan motifnya. Hal ini disebabkan
batik cap tidak melakukan penutupan pada bagian dasar motif yang lebih rumit
seperti halnya yang biasa dilakukan pada proses batik tulis. Korelasinya yaitu
dengan mengejar harga jual yang lebih murah dan waktu produksi yang lebih
cepat. Waktu yang dibutuhkan untuk sehelai kain batik cap berkisar 1 hingga 3
minggu. Untuk membuat batik cap yang beragam motif, maka diperlukan banyak cap.
Sementara harga cap batik relatif lebih mahal dari canting. Untuk harga cap
batik pada kondisi sekarang dengan ukuran 20 cm X 20 cm berkisar Rp. 350.000,-
hingga Rp. 700.000,-/motif. Sehingga dari sisi modal awal batik cap relatif lebih
mahal. Jangka waktu pemakaian cap batik dalam kondisi yang baik bisa mencapai 5
tahun hingga 10 tahun, dengan catatan tidak rusak. Pengulangan cap batik
tembaga untuk pemakainnya hampir tidak terbatas. Harga jual batik cap relatif
lebih murah dibandingkan dengan batik tulis, dikarenakan biasanya jumlahnya
banyak dan miliki kesamaan satu dan lainnya tidak unik, tidak istimewa dan
kurang eksklusif.
Tips Merawat Batik
Agar warna
batik berbahan sutra dan serat tidak cepat pudar, awet dan tetap tampak indah.
Mencuci kain batik dengan menggunakan shampo rambut. Sebelumnya, larutkan dulu
shampo hingga tak ada lagi bagian yang mengental. Setelah itu baru kain batik
dicelupkan.
Anda juga bisa
menggunakan sabun pencuci khusus untuk kain batik yang dijual di pasaran. Pada
saat mencuci batik jangan digosok. Jangan pakai deterjen. Kalau batik tidak
kotor cukup dicuci dengan air hangat. Sedangkan, kalau kotor, misalnya terkena
noda makanan, bisa dihilangkan dengan sabun mandi atau bila kotor sekali,
seperti terkena buangan knalpot, noda bisa dihilangkan dengan kulit jeruk
dengan mengusapkan sabun atau kulit jeruk pada bagian yang kotor.
Sebaiknya Anda
juga tidak menjemur kain batik di bawah sinar matahari langsung (tempat teduh).
Kain batik jangan dicuci dengan menggunakan mesin cuci. Tak perlu memeras kain
batik sebelum menjemurnya. Namun, pada saat menjemur, bagian tepi kain agak
ditarik pelan-pelan supaya serat yang terlipat kembali seperti semula.
Sebaiknya
hindari penyeterikaan. Kalaupun terlalu kusut, semprotkan air di atas kain
kemudian letakkan sebuah alas kain di bagian atas batik itu baru diseterika.
Jadi, yang diseterika adalah kain lain yang ditaruh di atas kain batik.
Disarankan
untuk menyimpan batik dalam plastik agar tidak dimakan ngengat. Jangan diberi
kapur barus, karena zat padat ini terlalu keras sehingga bisa merusak batik.
Sebaiknya, almari tempat menyimpan batik diberi merica yang dibungkus dengan
tisu untuk mengusir ngengat. Alternatif lain menggunakan akar wangi yang
sebelumnya dicelup dulu ke dalam air panas, kemudian dijemur, lalu dicelup
sekali lagi ke dalam air panas dan dijemur. Setelah akar wangi kering, baru
digunakan
Anda sebaiknya
juga tidak menyemprotkan parfum atau minyak wangi langsung ke kain atau pakaian
berbahan batik sutera berpewarna alami.
Bila Anda ingin
memberi pewangi dan pelembut kain pada batik tulis, jangan disemprotkan
langsung pada kainnya. Sebelumnya, tutupi dulu kain dengan koran, baru
semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain.